Minggu, 18 Desember 2011

BEDHAYA SURYASUMIRAT


BEDHAYA SURYASUMIRAT

Mengenal Bedhaya Suryasumirat
                        Tari tradisi istana jawa yang dikenal sekarang, secara garis besar terdiri dari tari tradisi Surakarta dan tari tradisi Yogyakarta. Berdasarkan tradisi-tradisi sastra yang menyertainya , asal-usul penciptaannya senantiasa dikembalikan kepada raja-raja yang bertahta pada saat itu, seperti Panembahan Senapati, Sultan Agung, Hamengkubuwana I, Pakubuwana dan Mangkunegara. Hal tersebut berkaitan erat dengan cita pikiran tentang kedudukan raja yang dipercayai bersifat dewa,yang berkuasa di negara kosmis.Mereka sebagai tokoh-tokoh besar dalam dinasti Mataram Baru yang dianggap pencipta dari tari-tarian Jawa yang dikenal sekarang ini merupakan suatu kebulatan kosmos yang tidak lepasdari masa-masa sebelumnya.
                        Para Mangkunagaran seperti halnya istana-istana di Jawa, hinggasekarang terlihat masih menyelenggarakan suatu bentuk tarian yang dinamakan bedhaya.Pada umumnya bedhaya di Mangkunaga ditarikan oleh tujuh orang penari putri(Anglirmendhung dan Bedhah Madiun), walaupun sebelumnya ada pula komposisi yang terdiri dari tiga orang penari putri (Anglirmendhung), dan sekarang terdapat bedhaya yang menggunakan sembilan orang penari putri (Bedhaya Suryasumirat).Istana merasa perlu memerlukan menampilkan tarian yang selalu dihubungkan dengan ritus ini tadak lain sebagai bagian yang upaya yang ditujukan bagi kepentingan tegaknya wibawa pemerintahan istana.
                        Tari bedhaya adalah tari putri yang hidup dan berkembang di istana. Sebelum abad XVIII tari bedhaya mutlakmilik kerajaan.Oleh karena itu tari bedhaya hanya dipentaskan di dalam istana.Hal ini sebagai pengaruh adanya anggapan bahwa bedhaya merupakan pusaka kerajaan.Ia dianggap sebagai kekayaan yang memberikan konstribusi dalam mengkultus kan raja dan meningkatkan kewibawaan raja.Kepemilikan bedhaya juga menunjukkan status yang tinggi,sehingga kemudian tradisi memiliki bedhaya mulai diikuti para penguasa di bawah raja.Beberapa adipati,bupati, dan wedana mulai banyak raja yang memiliki bedhaya.Bila penggunaan Bedhaya Suryasumirat di Mangkunagaran adalah suatu kesengajaan maka secara politis hal itu dapat dikatakan ada gejala untuk menyamai praja meskipun hal itu dilakukan secara halus.
                        Penyajian Bedhaya Suryasumirat itu karena ketidaklazimannya tentu memiliki maksud-maksud tertentu yang mungkin berbeda dengan yang telah ada sebelumnya. Bedhaya baru ini sedemikian besar artinya sehingga sudah barang tentu mengandung masud-maksud yang besar atas penyusunannya. Oleh karena itu perlu dipahami juga proses pembentukannya serta apa yang berbeda dari bedhaya yang lazim dimiliki oleh keraton.
  
  1. Latar Belakang Kesenimanan Penyusun Bedhaya Suryasumirat
Bedhaya Suryamirat sebagai karya seni terbagi atas dua bagian, yaitu isi dan bentuk.DeWitt H. Parker menyebutkan bahwa isi merupakan superior sedangkan bentuk adalah subordinat.1 Bentuk adalah perwujudan secara fisik yang dapat ditangkap indra seperti gerak,iringan,rias, dan busana, serta alat-alat lainnya yang kesemuanya merupakan medium tari untuk mengungkapkan isi.Isi merupakan kehendak atau karep,tujuan yang diungkapkan dalam bentuk fisik.2 Bentuk dapat diindra melalui penyajiannya serta pengamatan terhadap koreografinya.Adapun isi dapat ditangkap berdasarkan pengamatan terhadap penyajian betuk.Meskipun begitu dalam duni tari Jawa kadang-kadang agak sulit untuk mendapatkan isi dengan cara tersebut.Gagasan isi dalam tari Jawa dituangkan ke dalam bentuk dengan cara sangat halus dan sangat spesifik sehingga pendalaman  terhadap isi sebisa mungkin dilakukan dengan cara menanyakan langsung kepada pihak-pihak yang berkaitan.Di samping itu pribadi seniman pencipta tari sangat besar pengaruhnya dalam karya yang dihasilkannya,sehingga penting untuk mengetahui latar belakang pribadi seniman dalam usaha untuk mengungkapkan isi garapan tersebut.
Bagian pertama bab ini akan membahas tentang latar belakang kesenimanan baik penyusun tari maupun karawitan tari Bedhaya Suryasumirat.Penyusun tari dilakukan oleh Drs.SulistyoSukmadi Tritokusumo dan karawitan disusun oleh Dr. Sri Hastanto ,S.Kar.Hal inidilakuakn dengan tujuan (1) mengetahui kualifikasi ksenimanan mereka;(2) mengetahui kompetensi kekaryaan mereka;(3) mengetahui komitmen mereka dalm penyusunan Bedhaya Suryasumirat.

a.Sekilas Tentang Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo  

Sosok Sulityo Sukmadi Tirtokusumo tidak dapat dilepaskan dari tari tradisi gaya Istana Surakarta sebab sebagai seniman tari ia telah menciptakan banyak tarian dalam berbagai jenis.Latar belakng penciptaan tari Bedhaya Suryasumirat dapat dilihat di antaranya dengan melihat latar belakang kehidupan Sulistyo sebagai seniman tari tradisi Istana Surakarta.Dengan kata lain pada penelusuran terhadap kehidupan dan pandangan-pandangannya tentang tari sangat berguna untuk mengetahui apa maksud penciptaan tari Bedhaya Suryamirat.
Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo lahir di Surakarta,6 Juli 1953, anak ketujuh Raden Mas Ngabehi Atmosutagnya.Pada usia 3 bulan diambil menjadi anak angkat oleh Raden Mas Tumenggung Tirtokusumo.Pada usia 6 tahun ia telah mempelajari tari Jawa tradisional yaitu kepada empu tari Raden Mas Ngabehi Wignyahambegsa,Kanjeng Raden Tumenggung Djogodipura(Djogomanto),Raden Tumenggung Kusumakesawa,dan S.Ngaliman.Ttahun 1966 hingga 1971 Sulistyo Sukmadi Tirtikusumo belajar di Pawiyatan Kebudayan Keraton Surakarta.Ia belajar tari bedhaya dan srimpit  pada Raden Ayu Laksmintorukmi,Nyi Bei Pamarditoyo,R.Ngaliman Tjondropangrawit,dan para empu tari lainnya .
Pendidikan formalnya Sekolah Dasar Negeri (SD N 83)lulus tahun 1965,lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP N I) tahun 1968 di Surakarta.Ia melanjutkan Sekolah Menengah Atas Negeri  I(SMA I) di kota yangs sama dan lulus pada tahun 1971.Selanjutnya ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Institut Ilmu Keuangan Di Jakarta mengambil jurusan Akuntansi lulus tahun 1976.Beberapa tahun kemudian malanjutkan sekolahnya di Universitas Krisnadwipayana Jakarta mengambil jurusan Manajemen dan lulus tahun 1986.Pada tahun 1996 menyelesaikan melanjutkan pendidikan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta dengan jurusan yang sama.
Usia remaja banyak dimanfaatkan untuk belajar tari bahkan tidak di tempat yang sama, begitu pula serangkaian kegiatan yang ia ikuti.Misalnya pada tahun 1969 sampai 1971 ia belajar pada Raden Tumenggung Kusama Kesawa dan dipersiapkan memerankan tokoh Rama di Sendratari Ramayan Prambana, serta mengikuti Festival Internasional Ramayana di Pandan Jawa Timur 1971.Pada tahun yang sam ia pindah ke Jakarta dan bergabung dengan kelompok Tari Padne Vwara dipimpin Retno Maruti sebagai asisten koreografer dan penari.Di samping itu ia juga sering terlibat membantu pergelaran karya Sardono W.Kusumo ,Sal Murgianto, Wiwik Sipala, Taman Mini Indonesia Indah, Diretorat Jendral kebudayaan, dan acara kenegaraan di istana kepresidenan.
Saat ini Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo dikenal sebagai orang koreograferyang mempunyai reputasi nasional dan internasional.Ia juga sebagai bekerja sebagai karyawan Deputi Pemasaran dan Promosi Produk pada Kantor Menteri Negara Pariwisata dan Kesenian yang sekarang menjadi Depatemen Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta.Jauh sebelumnya ia adalah seorang penari tradisi gaya Surakarta(khususnya tari Putra Alus)yang handal.Sejak tahun 1973 hingga sekarang ia berkarya mencipta pergelaran tari.Beberapa karya tari yang berulang kali dipentaskan dalam forum-forum nasioanal /internasional antara lain: Catur Sagotra (1973), yudasmara (1973), Bedhaya Ratnaningprang(1974), Sunyaruri(bedhaya laki-laki)Bedhaya Kiranaratih, Dramatari Bisma Gugur(1975),Dramatari Arya Jipang(1979), Kirana Ratih(1981), Bedhaya Suryasumirat(1990),Tari Kontemporer Panji Sepuh(1993),Tari Harjuna Sasrabau, Tari Palguna Palgunadi, Tari Garapan Ekalaya(1986), Tari Diam(1987), Tari Garapan Basukarna(1987), Puspita Retna(1998), Tari Kontemporer Nyai Sembako(1998), Tari Kontempore Krisis(1999), dan sebagainya.Karya-karya tari tersebut  di pentaskan dalam berbagai macam keperluan yaitu Pekan Penata Tari Muda,Pekan Koreografer Indonesia indonesia dance Festival,keperluan Direktorat Kesenian,peresmian teater,pernikahan putra/putri Presiden Soeharto,dan sebagainya.
Beberapa peristiwa internasional maupun nasional yang pernah diikuti Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo di antaranya:Loomba Festifal di Australia (1975);Festifal Internasional Ramayana di Bangkok,Thailand(1991);Festifal Cervantino di juanajuanto,Mexico(1992);Festival di Melbourne Australia(1994); Korean Internasional Dance Event di seoul (1995);Festival internasional Ramayana di Angkor,          Kamboja (1996);dan Festival persahabatan Indonesia Jepang di jepang (1997).3
Kualifikasi Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo dalam dunia seni tradisional  di tentukan oleh durasi keikutsertaannya dalam bergaul dengan seni tari jawa baik pada saat belajar,berkarya,pementasan,dan kegiatan pendukung lain.disamping itu mutu kegiatannya juga sangat mendukung seperti kepada siapa ia belajar serta mutu peristiwa-peristiwa kesenian yang telah di ikutinya. Tidak kalah pentingnya adalah integritas  sebagai generasi penerus budaya Indonesia (jawa)yang sudah di akui mutunya. Dengan bekal tersebut kiranya sosok Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo tidak di ragukan kualifikasinya pada saat menyusun  bedhaya suryasumirat dan mengabdikan karyanya kepada Pura Mangkunegara.
Menurut Sulistyo hasi karya para leluhur tidak hanya diwarisi begitu saja,akan tetapi mengandung arti pertanggung jawaban dalam wujud  sikap tanggap dan aktif. Tanggap dalam arti para generasi  penerus haruslah secara responsif tetap menjaga kelangsungan hidup  karya-karya tersebut.  Adapun aktifitas berarti kreatif,dinamis serta kritis terhadap apa yang di kenal (dalam warisan leluhur).Sulistyo beranggapan bahwa  kunci dari gabungan  sikap tanggap dan aktif adalah sikap keterbukaan.Sikap terbuka akan dapat  mengatasi adanya segala kemacetan dan kemandegan, sehingga kebaruan atau inovasi positif diharapkan selalu ada dan bisa menjadi ciri atau identitas budata tertentu umpamanya kebudayaan yang khas Mangkunagaran.4Di Mangkunagaran sendiri pembaruan dan inovasi positif dapat diamati lewat karya-karya yang muncul dan berkembang secara berkesinambungan pada masa kepemimpinan Mangkunagara sebelumnya yaitu Mangkunagara IV,V dan VII.
Dengan adanya perubahan di berbagai segi kehidupan baik sosial,politik,ekonomi,maupung budaya sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seni Mangkunagaran.Selo Sumardjan berpendapat bahwa perkembangan kesenian pad umumnya mengikuti proses perubahan yang terjadi dalam kebudayaan suatu masyarakat.Sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan,kesenian dapat mengalami hidup statis yang meliputi warna tradisional.Sebaliknya kesenian akan ikut selalu berubah dan berkembang bila kebudayaannya juga selalu bersikap terbuka terhadap perubahan dan inovasi.5

b.Sekilas Tentang Sri Hastanto

Sri Hastanto lahir di Jombang (Jawa Timur) pada tanggal 22 Desember 1946,anak keempat dari 11 bersaudara putra Suwahyo Brotowardoyo.Sekolah Dasar lulus tahun 1959,lulus Sekolah Menengah Pertama tahun 1962 di Sragen.Pendidikan formal karawitan dimulai ketikaia melanjutkan sekolah ke Konservatori Karawitan Indonesia mengambil Jurusan Karawitan dan lulus tahun 1965.Selanjutnya ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta(sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia atau STSI) mengambil jurusan yang sama dan lulus tahun 1977.
Pergaulan internasional Sri Hastanto dimulai pada tahun 1979 ketika mengikuti Festival of Durham (Inggris).Dengan uasahanya ia mendapat beasiswa Supersemar untuk menempuh Program Doktor Etnomusikologi di University of Durham dan berhasil lulus dengan nilai A dengan disertai berjudul “The Concept of Pathet in Central Javanese Gamelan Music” tahun 1985.
Sekembalinya dari luar negeri ia berkesempatan menjadi pimpinan di dimulai dari Pejabat Sementara Direktur ASKI Surakarta (19 Juli1986,Pejabat yang menjalankan tugas Ketua STSI Surakarta (4 Oktober 1988),dan Pejabat Sementara Ketua STSI Surakarta (26 November 1992),serta menjabat sebagai Ketua STSI Surakarta pada tahun 1998.Pada tahun 1999-2000 menjabat Ketua Direktorat Jendral Kesenian dan pada tahun 2001 menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan Pariwisata dan Seni di Jakarta.
Karya-karyany dalam bidang yang ditekuninya di antaranya adalah Komposisi Gamelan Garapan Baru Dhandanggula 1984,Gending Gereja 1984, Senam Kesegsaran Jasmani 1988,KomposisiGamelan Klasik Bedhaya Welasih 1988,Rolumonem 1989, Macapat Terate Jenar 1989, waiVak (untuk umat Budha) 1989,serta iringan tari untuk Bedhaya Suryasumirat (1990),dan Bedhaya Pulung (1990).
Keahlian dalam bidang lain juga ia miliki yaitu sebagai pemain Leading Musician BCA Promanade Concert (1979),Leading Musician pada Cluster Festival(1979),Leading Musician pada Festival BBC Promenade Concert (1982),Leading Musician pada Festival Madrid (1984),Leading Musician pada Festival Barcelona (1985),Leading Musician pada Jakarta Cultural Mission di Tokyo (1988),dan Leading Musician pada Horizon Eastland West di Tokyo (1989).Tidak kalah pentingnya kegiatan-kegiatan temu ilmiah baik sebagai panitia dan pembicaraan di tingkat nasional maupun internasioanal separti simposium dan seminar di bidang seni,budaya, dan sastra diantaranya: seminar Oriental and African Studies (1984) di Inggris,Royal Musical Association Annual Conference (1986) di Vancouver Canada,Seminar Budaya Keraton (1987) di Surakarta, Temu Budhaya surakarta 1988 di Surakarta, Horizon East and West 1989 di Jepang, Dewan Artistik Seni Pertunjukan Pameran Kias (1988) sampai dengan (1991).6
Kualifikasi Sri Hastanto sebagai seniman maupun ilmuan agaknya tidak diragukan lagi, juga oleh durasi dan mutu kegiatannya sejak masa belajar hingga berkarya baik di forum nasional maupun internasional.Oleh karena itu penunujukan sebagai penyusun karawitan iringan tari Bedhaya Suryasumirat sudah sangat layak.Bagi Sri Hastanto ia merasa mendapat kehormatan serta kepercayaan dengan ditunjuknya sebagai penyususun karawitan iringan tari Bedhaya Suryasumirat.Kepercayaan tersebut lebih terasa lagi karena ia mendapat kebebasan di dalam menentukan susunannya.
Gagasan pertama yang melandasi susunan garapannya dalam Bedhaya Suryasumirat adalah bahwa ia tidak ingin menyusun karawitan iringan tari Bedhaya yang sama dengan karawitan iringan tari Bedhaya yang sudah ada pada umumnya.Ia hanya mengacu bingkai paling mendasar dari karawitan iringan tari bedhaya yang memiliki struktur garis besar tiga bagian yaitu adanya maju beksan, beksan pokok, dan mundur beksan.Dalam melihat struktur secara garis besar tersebut ia mengacu pada karawitankan suatu karya tari sebagai  iringan tari Bedhaya Duradasih.

  1. Maksud Disusunnya Bedhaya Suryasumirat

 Lahirnya Bedhaya Suryasumirat merupakan perpaduan kehendak antara Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria (K.G.P.A.A) Mangkunagaran IX dan Sulistyo.Di satu pihak K.G.P.A.A Mangkunagaran IX berkeinginan mewujudkan suatu monumen berupa tarian.Di pihak lain Sulistyo sebagai salah seorang keturunan Mangkunagara berkeinginan mempersembahkan suatu karya tari sebagai buah pengabdiannya kepada dunia tari yang membesarkannya dan sekaligus sebagai keluarga Mangkunagaran.

K.G.P.A.A Mangkunagara IX bermaksud mewujudkan tekadnya ke dalam suatu tarian bedhaya dengan tujuan antara lain untuk ngeluri semangat kepahlawanan Pangeran Sambernyawa.Berikut kutipan wawancara dengan K.G.P.A.A Mangkunagara IX.

Berdasarkan petunjuk yang saya terima, bentuk monumen termaksud adalah sebuah tarian yang menggambarkan jiwa keluaraga Mangkunagaran.Adapun jiwa tersebut telah ditanamankan secara turun-temurun dan kuat sekali mengakar di dalam kehidupan seluruh anggota keluarga Mangkunagaran, dan secara sangat jelas jiwa itu adalah semangat perjuangan yang dilambangakan melalui tokoh Sumbernyawa itu sendiri.8
Keinginan lain yang ingin disampaikan oleh K.G.P.A.A Mangkunagara IX adalah:(1)bahwa K.P.G.A.A Mangkunagara IX sebagai penerus generasi Mangkunagara wajib menjaga kelestarian keluarga sehingga terbentuk garis lurus antara generasi pendiri sampai generasi kini sehingga tari ini menggambarkan kesatuan’rasa’Mangkunagaran meskipun orang-orang yang ada di dalamnya silih berganti menurut geneasinya masing-masing;(2) hendak melestarikan dalam bentuk tari (yaitu bedhaya suryasumirat ini)apa-apa yang telah menjadi keyakinan  keluarga mangkunegara misalnya watak kesatria yang umpamanya diwujudkan dalam kepahlawanran pangeran sambernyawa;(3) mewujudkan suatu monumen budaya berbentuk tari yang dapat menjadi pengingat akan tugas suci seorang kepala keluwarga  mangkunegara apalagi melihat begitu beratnya tugas yang di emban dalam masa sekarang ini;(4)hendak mewujudkan tekad dan doa hidup agar dalam mengarungi hudup yang berat ini selalu mendapatkan berkah dari Tuhan Yang  Mahaesa serta didukung oleh ‘rakyat’.

Tekad K.G.P.A.A.Mangkunegara IX ini selanjutnya secara eksplisit diserahkan sebagai pisungsung kepada permaisuri yaitu kanjeng Bandara Raden Ayu Mangkunegara pada hari pernikahannya. Hal tersebut menjadi lambang bahwa Mangkunegara IX telah bertekad memulai sesuatu yang baru di Mangkunegara yang dimulai dari menanamkan jiwa sambernyawa pada dirinya.Boyong dalem di anggap saat yang tepat untuk memproklamasikan tekadnya itu sehingga tepatlah jika monumen berupa tari bedhaya di pentaskan dalam acara tersebut.

Agak berbeda dengan latar belakang kreasi Bedhaya Suryasumirat dari sudut mangkunegara,sulistyo sumakdi tirtokusumo berpendapat bahwa  kreasi tari bedhaya di mangkunegara  memang sudah saatnya dilakukan. Ia menyatakan bahwa sepanjang pengetahuaannya adalah merupakan hasil karya kreativitas yang dilakukan oleh para seniman yang hidup pada masa K.G.P.A.A Mangkunegara I sampai VII secara terus menerus,berkesinambungan,dan saling melengkapi. Akan tetapi justru pada jaman pasca kemerdekaan belum muncul penciptaan karya baru mangkunagara yang pantas diketengahkan. Hal ini merupakan tantangan yang harus diwajibkan. Dengan latar belakang  itulah maka ia bermaksud memberanikan diri menciptakan tari baru berbantuk bedhaya sebagai perwujudan rasa tanggung jawab moralnya kepada Pura mangkunegara. Secara lebih khusus lagi ia inggin mempersembahkan karya tari tersebut kepada mangkunegara IX,yang di pentaskan pada acara pernikahan boyong dalem pada tanggal 17 juli 1990 di pura mangkunegara.

Melalui proposal yang diajukan kapada KGPAA mangkunegara IX pada tanggal 22 Mei 1989 dalam rangka penyusunan Bedhaya Suryasumirat,ia antara lain mengatakan bahwa Istana Mangkunegara merupakan salah satu pusat budaya jawa peninggalan para leluhur mataram.secara berkesinambungan K.G.P.A.A mangkunegara I (1757-1795) dan generasi berikutnya telah membuktikan kemampuan dirinya dalam menciptakan dan melestarikan budhaya khususnya yang berkembang di mangkunegara.

Hasil –hasil pelestarian kebudayaan mangkunegara sampai sekarang masih dapat di nikmati.seiring dengan perubahan jaman,terdapat fungsi-fungsi yang berkembang. Du dalam alam kemerdekaan Republik Indonesia sekarang ini hasil-hasil kebudayaan mangku negara memiliki fungsi lain yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya ialah peranannya yang besar dalam menghidupkan dan memberi warna pada dunia pariwisata.sajian tari umpamanya tetap terpelihara dengan baik sekaligus menjadi sajian menaril bagi para wisatawan baik wisatawan asing maupun domestik.

Sulistyo juga menyadari bahwa generasi mangkunegara saat ini dibawah pimpinan pengageng pura K.G.P.A.A mangku negara IX sama-sama merasakan tanggung jawabnya untuk melestarikan kebudayaan mangkunegara. Selain dari itu juga turut  ber partisipasi berupa giliran mewariskan sesuatu kepada generasi penerus atas hasil karya seniman –seniman yang hidup sejaman untuk mengangkatnya sekaligus sebagai upaya penyegaran dan pembaharuan.

Lebih jauh sulistyo mengemukakan dasar pemikiran penyusunan Bedhaya suryasumitrat,diantaranya sebagai berikut;

a.    Sebagai manifestasi dari sikap tanggap dan aktif para pewaris kebudayaan setempat untuk ikut menjaga melestarikan,dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup seni di pura mangkunegara di masa pasca kemerdekaan.
b.    Mempersembahkan sesuatu yang bernilai khususnya kepada Kanjeng Gusti Pangeran  Adipati Aria (K.G.P.A.A) mangkunegara IX dalam rangka pernikahan ‘Boyong dalem’ dengan Kanjeng Bandara Raden Ayu (K.B.R.Ay) mangkunegara pada tanggal 7 juli 1990.
c.     Keinginan tetap menjaga api semangat perjuangan pangeran sambernyawa sebagai pahlawan Nasional.
d.    Ikut serta mempercepat proses sabar budaya,umpamanya dengan menghapus  asumsi tentang adanya perbedaan jumlah penari bedhaya pada pemerintah  yang berbentuk kadipaten dan keraton karena di masa kemerdekaan ini hal itu sudah tidak relevan lagi.

      Adapun hal-hal pokok yang ingin ditampilkan Sulistyo S.Tirtokusumo dalam  garapan Bedhaya Suryasumirat antara lain sebagai berikut;
1.    bahwa ragam ragam gerak pada tari Bedhaya Suryasumirat mengacu pada ragam-ragam gerak tari yang sudah ada seperti srimpi pandelori,bedhaya bedhah madiun,bedhaya anglir mendhung,bedhaya doradasih,dan bedhaya tejenata.bedhaya suryasumirat menggunakan penari putri berjumlah 9 dengan rias dan busana sama.
2.    menampilkan ciri khas busana mangkunegara melalui penggunaan slempang dengan lambang matahari berwarna hijau dan kuning(pareanom),serta jamang yang bermotif cirebon.
3.    menampilkan kesan agung dan berwibawa melalui penggunaan iringan tari berupa gamelan mangkunegara yaitu Kyai Udan Asih dan Kyai Udan Arum  serta Kyai Kanyut Mesem yang dipadukan dengan alat musik tambur.
4.    menggambarkan kisah perjuangan pangeran Sambernyawa melalui pola lantai umpamanya pada gawang rakit gelar,rakit pistolan,dan rakit lumbungan atau blumbangan.
5.    menggambarkan suasana perjuangan dengan menggunakan property  berupa tiruan senjata colak atau pistol.

Semua hal tersebut di atas dimaksudkan untuk merefleksikan sifat keprajuritan dan kepahlawanan  pangeran sambernyawa.tari bedhaya Seryosumirat diharapkan menjadi salah satu jenis pusaka mangkunegara  yang bernilai sakral dan magis,sehingga hanya bisa ditarikan pada acara upacara ritual tertentu seperti pernikahan raja,ulang tahun jumenengan,dan menyambut tamu penting pura mangkunegara.
Semua keinginan Sulistyo terpenuhi karena pada  masa pasca Kemerdekaan Republik Indonesia (1945) semuanya memang memungkinkan. Sebelum kemerdekaan (kurang lebih pada tahun  1937) tidak ada kebebasan untuk berkreasi tetapi setelah kemerdekaan (sekitar tahun 1950) kebebasan tari di mangkunegara pada waktu itu terbuka lebar.kebebasan berkreasi tampak separti  yang telah dilakukan oleh Ibu Minto Laras (Bancok) antara lain berhasil menyusun karya di antaranya;Manak Koncar,Gambyong Pareanom,Gambyong Padasih,Campursari, dan Priyobada Mustakaweni. Adapun  kebebasan berkreasi yang diberikan telah dimanfaatkan sebaik-baiknya namun masih sebatas pada penyusunan wireng dan beksan. Kreasi yang telah di lakukan umpamanya oleh RonoSuripto tahun 1988-1989 yang hasil menyusun gambyong Langen Kusumo,pada tahun 1990 Gatutkaca Dadhungawuk,Bogodhentan Werkudara,Situbanda(2 raksasa bernama Indra dan Bayu dengan Werkudara)yang disusun untuk keperluan Festival Kraton Nusantara.
Penyusun Bedhaya Suryasumirat dengan segala permasalahannya yang terkait dengan perubahan seperti yang telah di uraikan sebelumnya adalah wajar dan sah bagi  proses itu sendiri. Dalam kaitan ini tari memiliki dinamika sendiri dan sekaligus merupakan  kreativitas kebudayaan itu sendiri. Masyarakat menyangga kebudayaan tersebut,lalu kebudayaan berupa kesenian itu mencipta,menularkan,mengembangkan untuk kemudian menciptakan kebudayaan baru lagi. Kewajaran dan keabsahan ini juga disebabkan  oleh adany pemikiran behwa setiap generasi tidak akan puas dengan warisan pusaka (dalam hal ini tari bedhaya)yang diterimanya pada masa lalu (dalam hal ini sejak mangkunegara I secara berkesinambungan hinga sekarang) sehingga berusaha membuat  sumbangan sendiri. Selain itu,sebagai salah satu trah mataram,mangkunegara IX juga berusaha mengikuti  dan melakukan pesan leluhurnya yaitu Sultan Agung,yang mengsyaratkan bahwa trah mataram yang baik dan besar harus dapat memahami seni tradisi sebagai bagian dari kehidupannya. Besarnya rasa hormat terhadap leluhurnya inilah yang juga menjadi alasan penting digubahnya tari bedhaya suryasumirat di pura mangkunegaran sekaligus sebagai usaha pelestarian budaya keraton.

C.Proses penyusunan bedhaya suryasumirat

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa bekal kemampuan Sulistyo sebagai penyusun dari bedhaya tidak di raguakan lagi pengalaman dan kompetensinya dalam bidang seni tari.meskipun demikian ia tetap melakukan penjelajahan atau pemilihan gerak tari tradisi dan mengacu pada sekaran tari-tari yang sudah ada di mangkunegara.penjelajahan dilakukan dengan cara mengapresiasi  tari melalui koleksi rekaman vidio tari bedhaya yang sudah ada .

Tari bedhaya yang sudah ada umpamanya Bedhaya Bedah Mediun, Bedhaya Anglirmendhung, Bedhaya Duradasih, Bedhaya Pangkur, Bedhaya Tejanata, Bedhaya Semang, dan Srimpi Pandhelori yang semuanya merupakan kekayaan empat kekayaan di jawa (catur tunggal)memang telah lama menarik perhatiannya, ia dapat merasakan tebalnya nilai tradisi pada tari-tari tersebut sehinga ia memutuskan untuk menggunakannya sebagai acuhan.

Penjelajahan atau pemilihan gerak yang lain di lakukan dengan cara meminta beberapa penari mangkunegara untuk memperagakan berbagai macam gerak-gerak tari yang ada di mangkunegara .dengan penjelajahan ini ia mendapat perbendaharaan gerak yang sangat banyak karena sebelumnya ia telah mengenal dengan baik pembendaharaan  gerak tari tradisional diluar mangkunegara. Dengan pembendaharaan gerak yang amat banyak tersebut penyusunan bedhaya suryasumirat menjadi lebih mudah karena pemilihan gerak untuk mewujudkan gagasan ini menjadi lebih mudah di lakukan.ia tinggal memilih dan merangkaikan gerak-gerak yang di anggap sesuai dengan karakter tari yang akan di susunnya.
  Kekayaan perbendaraan  gerak Sulistyo menjadi semakin lengkap karena ia memiliki kemampuan kreatif sehingga di samping dapat menggunakan gerak-gerak yang sudah ada ia juga secara jeli memilih gerak yang ada lalu diperhalus,dikembangkan dan diramu sehingga menjadi bentuk-bentuk baru.salah satu contoh dari sekaran tari alus Sidang sampir sampur dalam tari bedhaya Suryasumirat menjadi sekaran putri nama ngalap sari ngolong sampur.selain itu juga dalam melakukan  gerak mbukak tungkai volume di sempitkan dan penthangan lengan tidak terlalu tinggi. Dengan keahlian ini materi perbendaharaan gerak menjadi tidak terbatas.kekayaan vokabuler(ragam atau sekaran)gerakannya bahkan tidak terbatas pada tari putri saja melainkan tari alus baik gaya Yogyakarta maupun surakarta.sekaran dan putra alusan sekaran sidang sampir sampur dan sangga nampa yang terdapat pada tari Arjuna-Keratarupa yang distilisasi menjadi sekaran (gerak tari) putri dalam Bedhaya Suryasumirat (semasa menjadi  siswa Raden Mas Ngabehi Wignyohambegsa).tidak hanya itu,ia bahkan mengadukan bentuk gerak yang memiliki karakter  sangat belainan yaitu rasa gerak tari Thailand.misalnya sesudah melakukannya sekaran sampir sampur dilanjutan melangkah maju ukel kedua asta buang sampur disertai kaki belakang setinggi betis (kicat)baik kanan maupun kiri. Hal itu dilakukan karena mengingat bangsa Istana mangkunegara sangat terkesan akan kunjungan Raja Thailand yang bernama Chulalokorn dan Prajadipok ke Surakarta pada tahun 1930.Sulistyo sangat kaya ragam gerak putri terutama tari bedhaya dan srimpi sehingga ia dapat mengacu kepada kedua repertoar tari tersebut  baik pada bentuk gerak maupun pola lantainya.
Berbeda pada sebelumnya,pada proses penyusunan tari bedhaya suryasumirat ia menyertainya dengan ‘laku’ supernatural berupa tapa dan tirakat. Tempat-tempat yang ia untuk bertirakat adalah makam Yosodipura I I di pengging.selain itu ia juga bertapa kungkum(berendam di air)di pinggiran. Adapun laku yang berhubungan dengan ziarah ke makam pangeran sambernyawa di mangadeg ,karanganyar.tapa bagi orang jawa merupakan salah satu jalan yang penting  dan utama untuk bersatu dengan Tuhan dan biasanya dilakukan dalam kesempatan yang khusus.
Proses kebatinan yang telah ia lakukan terutama bersemedi di depan makam Pangeran Sambernyawa telah mendatangkan ilham (wisik) baginya. Menurutnya penuturannya,dalam keheningan iaq melihat (meskipun dengan mata terpejam)sinar terang bagai matahari bersinar terang dan perlahan-lahan berubah wujud menjadi bunga teratai.selain itu juga  mendapat wisik yang mengatakan supaya  sungkem (berziarah) ke makam sebelah bahwanya dari tempatnya saat itu. Ia lalu melangkah mundur untuk sungkem ke makam yang telah di tunjukan. Ketika selesai nyenyuwun dan sungkem lalu mengangkat kepala,di depannya tertera nama Sekar Kedaton maupun istarat.Sekar Kedaton ia tafsirkan sebagai ‘bunga keraton’.sampai di sini ia belum dapat memahami benar mengenai makna isyarat tersebut Sulistyo berkeyakinan bahwa  isyarat-isyarat itu akan berkaitan satu sama lain.ia yakin betul yang dialami selama menjalankan laku itu merupakan petunjuk dalam penyusunan tari yang sedang berjalan.
Beberapa waktu kemudian ia mengetahui bahwa isyarat yang di sampaikan melalui wisik tersebut yakni gambaran berupa matahari bersinar (surya sumirat),bunga teratai yang merupakan lambang dari himpunan kerabat mangkunegara suryasumirat  serta sekar kedaton,maka dapat di tafsirkan  bahwa tari bedhaya ciptaannya akan menjadi bunga keraton .oleh karna itu Sulistyo memberikan nama tari ciptaannya dengan suryasumirat  sebagai ganti nama yang direncanakan sebelum nya  yaitu   Bedhaya sambernyawa. Nama suryasumirat didasarkan  ideologi yang tercermin dalam lambang istana mangkunegara ialah Suryasumirat (matahari bersinar)yang lengkap berbunyi:Suryasumirat Amandani  Jagad,adalah  satu ideologi.begitu tinggi ideologi pura mangkunegara sehingga cita-cita  memberikan kehidupan bagi kawula-nya seperti matahari yang cahayanya dapat memberi  kehidupan.
Mengenai penari Bedhaya jumlah 9 orang dengan pertimbangan bahwa angka 9 merupakan angka tertinggi dan memiliki nilai sakral dalam kehidupan  budaya jawa. Selain itu bahwa keharusan penggunaan penari 7 orang yang diberlakukan untuk istana  selain kasunanan ( biasa disebut dengan bedhaya kadipaten), sudah dianggap tidak relevan lagi.Mengingat bahwa masa sekarang merupakan masa kemerdekaan maka tidak ada lagi bentuk kerajaan atau kadipaten di Jawa.Pertimbangan lain yaitu bahwa tari Bedhaya diciptakan pada masa kepemimpinana K.G.P.A.A Mangkunagara IX dan sekaligus dipersembahkan untuk penguasa di alamkemerdekaan.19
Keterlibatan Sulistyo S. Tirtokusumo di Mangkunagaran sudah berlangsung sejak tahun 1988.Pada saat itu ia baru saja mengetahui bahwa dirinya dan keluarganya adalah keluarga Mangkunagaran karena merupakan keturunan Mangkunagara II.Keterangan tersebut ia ketahui dari almarhum ayahnya dua tahun sebelum meninggal.Timbul di dalam hatinya untuk mempersembahkan suatu karya tari bagi Mangkunagaran guna menjabarkan gagasannya.Akan tetapi dalam mewujudkan keinginan itu ia tidak pernah berhasil,bahkan untuk membuat sebuah gerak sederhana saja tidak mampu.
Partisipasi Sulistyo di Mangkunagaran mengalami babak baru ketika ia mengikuti misi kesenian ke Jepang bersama dengan K.G.P.A.A Mangkunagaran IX,Sultan Hamengkubuwana X,dan Edward Surjadjaja beserta Happy Surjadjaja  di bawah koordinasi Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Wiyogo Atmadarminto.Misi ini bertujuan meperkenalkan kesenian Jawa di mancannegara.Forum tersebut juga berhasil meniumbulkan semangat baru hendak mempersatukan kebudayaan empat keraton.Semangat kebersatuan itu diabadikan sewaktu upacara pengangkatan Pangeran Sumbernyawa (Mangkunagara I) sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1988.20
Gagasan isi yang hendak ditengahkan dalam Bedhaya Suryasumirat meliputi: (1) kepahlawanan tokoh Pangeran Sumbernyawa serta punggawa baku masing-masing Rangga Panambangan, Kyai Kudanawarsa; (2) harapan dan sikap Mangkunagara IX dalam menyongsong perubahan jaman.Penuangannya dalam gerak ialah: bagian maju beksan sampai dengan Inggah Ladrang dititikberatkan pada sepak terjang perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sumbernyawa, selanjutnya pada bagian Ketawang sampai mundur beksan dititikberatkan pada masa kepemimpinan K.G.P.A.A Mangkunagara IX sebagai Pengageng Pura Mangkunagara.
Sri Hastanto yang diberi kepercayaan menggarap iringan gendhing Bedhaya Suryasumirat mengatakan bahwa baru-baru ini ia mendengar kabar bahwa Mangkunagarn mencipta tari bedhaya yang dilakukan sembilan penari.Berbeda dengan bentuk-bentuk tari bedhayan yang disaklarkan kalangan Keraton Surakarta,Yogyakarta maupun Istana Mangkunagaran selama ini.Bedhaya Suryasumirat memiliki sifat khas.Warna suara gamelan pengiring berupa gamelan pusaka Pura Mangkunagaran akan berbeda dengan jenis gamelan lain karena mempunyai ciri embat atau struktur interval yang menjadi warna khas setiap nada pada gamelan.Penyusun iringan sangat serius menggarap karya tari ini.Oleh karena itu mengandung inti kisah perjuangan Raden Mas Said,maka untuk mencari inspirasi garapan Sri Hastanto juga mengadakan ziarah ke makam Raden Mas Said yang bergelar Mangkunagara I.21
Menyinggung hak cipta karya tari Bedhaya Suryasumirat, Sri Hastanto menyatakan akan menjadi karya cipta monumental Mangkunagara IX, seperti karya monumental lain yang diciptakan para empu tari bagi kepentingan Mangkunagara yang bertahta pada zamannya masing-masing.22

D.Deskripsi Ringkas Tentang Bentuk dan Medium lain

Bedhaya Suryasumirat memiliki ciri umum yang sama pada tari bedhaya adalah tari tersebut dilakukan oleh sembilan orang penari putri yang berbusana, tata rias, seta gerak tarian yang sama yaitu teri putri dengan kualitas gerak halus dan cenderung lembut. Masing –masing penari mempunyai nama-nama tertentu didalam komposisinya yaitu endhel ajeg, batak, gulu, dhadha, apit ngarep, apit mburi,apit meneng, endhel weton, dan terakhir buncit. Sruktur pola penyajian tari Bedhaya Suryasumirat tersebut menjadi empat bagian . bagian pertama (juga disebut bagian maju Beksan),penari berjalan perlahan dengan gerak kapang-kapang  secara beruntun dari dalem (bagian dari istana )menuju pendhapa agung (pendapa besar).bagian kedua di bagi menjadi dua bagian yaitu pertama penari melakukan gerak sembahan. Bagian ke tiga,pelaksanaannya sama dengan bagian yang ke dua hanya lebih banyak menampilkan peran batak dan endhel ajeg yang membawakan gerakan-gerakan simbolis perdamaian antara PB III dan pangeran sambernyawa.  Bagian kedua dan ketiga lazimnya disebut bagian beksan.
Bagian ke empat atau mundur  beksan merupakan kebalikan dari bagian pertama,yaitu berjalan perlahan berurutan menggunakan pola gerak kapang –kapang,dari pendhapa ageng menuju kedalam.
Gendhing Bedhaya Sueryasumirat bagian pertama atau maju beksan diawali dengan lagu Ada –ada Hastakuswala dan tembang pangkur laras pelog  disambung  dengan gending soran dan selanjutnya ditutup dengan pathetan. Bagian kedua di iringi Gendhing Kemanak Suryasumirat terdiri dari bentuk merong kethuk kalih kerep dan inggah ladrang  kethuk kalih kerep berbalas  pelog dengan buka celuk (swara sinden)yang di akhiri pathetan sekar sigeg pathet pelog lima (instrumentalia). Bagian ke tiga,menggunakan gending bentuk ketawang  jiwa kusuma pelog lima suwuk dan di akhiri dengan pathetan sekar sinegeg pelog pathet  lima. Bagian kedua  dan ketiga biasanya sering disebut begsan.bagian ke empat atau atau mundur beksan  digunakan gendhing soran maju beksan bagian pertama.
Pertunjuk Bedhaya Suryasumirat ini memerlukan waktu kurang lebih empat puluh lima menit.Selama sajian Bedhaya Suryasumirat bau asap kemenyan dan ratus wangi memenuhi ruang Pendhapa Agung yang menambah suasana magis pada waktu itu. Sumea yang terlibat maupun para tamu undangan yang hadir tenang selam sajian bedhaya suryasumirat berlangsung.
Seperti tari-tari bedhaya lainnya bahwa bedhaya suryasumirat juga menyajikan cerita serta tema yang dapat diamati dari gerak tariannya,isi syairnya,serta rasa gendhing iringan tarinya.Lewat pengamatan gerak tarinya, bedhaya suryasumirat pada beksan pokok bagian ke dua menyajikan tema perdamaian pangeran sambernyawa dengan Sri Susuhunan Paku Buwana III,bagian ini juga ditandai ddengan pengulangan gerak sembahnsebanyak dua kali yang dilakukan diawal bagian tersebut yaitu:sembah pertama menghadap ke dalem ageng untuk menyembah kanjeng kyai (kyai Fandel, Kyai Tambur, Kyai Pujo Sari) dan Kanjeng Gusti Mangkunegara , sembah ke dua menghadap ke timur mengarah ke gunung lawu(sunan lawu),mangadeg (makam leluhur,terutama pangeran sambernyawa),dan matahari terbit.Hal kedua ini dilakukan untuk memohon doa restu dan ijin, karena bagaimanpun apa yang ditampilkan merupakan penggambaran dan milik beliau.
1)  Gagasan isi
a.    Telah dikemukakan sebelumnya bahwa gagasan isi pada bedhaya suryasumirat adalah(1) kepahlawanan tokoh pangeran sambernyawa beserta punggawa baku masing-masing rangga panambang kyai kudawarnasa.(2) harapan dan sikap mangkunegara IX dalam menyongsong perubahan jaman gagasan isi tersebut diwujudkan dalam susunan yang terdiri atas dua bagian. Bagian pertama menggambarkan semangat pangeran Sambernyawa dalam melawan musuh-musuhnya serta usaha untuk mewujudkan cita-citanya hal ini terlihat pada awal gerakan yang dilakukan seorang penari yang berperan sebagai pangeran sambernyawa yang dilakukan oleh penari batak yang berdiri diantara penari lainnya yang masih dalam posisi duduk bersila/lenggah terap sila.Kemudian disusul dua penari yaitu endel weton dan apit ngarep sebagai penggambaran tokoh kyai patih ngabehi kundana warsa dan tokoh R. Ng. Rangga panambang. Selanjutnyan diikuti oleh semua penari.
2)  Elemen-elemen Bedhaya suryasumirat
a.      Gerak
                        Stuktur bedhaya suryasumirat dibagi menjadi tiga bagian yaitu maju beksan,beksan,dan mundur beksan.maju beksan dan mundur beksan adalah penari berjalan perlahan-lahan berurutan satu  persatu menggunakan  pola gerak kapang-kapang.pada maju beksan penari dergerak dari dalem(bagian dalem istana)menuju pendhapa agung (pendhapa besar);mundur beksan merupakan kebalikan dari bagian maju beksan yaitu berjalan perlahan yang menggunakan pola gerak kapang-kapang  dari pendapa agung menuju ke dalem.
                        Gerak bagian beksan pokok dapat di katagorikan menjadi dua  dagian berdasarkan peralihan iringan gending-nya.gerakan bagian pertama menggunakan bentuk gendhing kemanak  di lanjutkan ladrang yang terdiri dari 23 gongan diawali dengan gerak sembahan berdiri,dilanjutkan sekaran lainnya yaitu kencer ukel karna,laras anglirmendhung,pendhapan ngangsur,rindhong sampur lenggut,lembahan utuh sampur ukel karna ,manglung utuh,ngembat  mentang,laras bedhaya trap wimba,panahan,mudrangga,golek iwak ngayang ,panggel menthang,pendhapan,glebangan golek iwak,ridhong ngalapsari.Akhirnya pada bagian beksan ini,ditandai dengan gerak sembahan dalam posisi duduk bersila/jengkeng nikelwati.
Gerak bagian beksan pokok kedua menggunakan gendhing bentuk ketawang jiwakusuma pelok lima,yang terdiri dari 38 gongan.Bagian ini diawali gerak sembahan dua kali yaitu sembahan laras kolong sampur, sembahan lengut, dan dengan dilanjutkan berdiri dengan menggunakan berbagai macam pola gerak diantaranya ngalap sari kolong sampur, ngunduh sekar, golek iwak ukel, sangga nampa, rimong ukel jujud, pistulan, kengseran, ukel karna glebagan, enjerindong sampur, malang kerik,l aras arum asih dan di akhiri dengan pola gerak jangkeng, nikel warti,sembahan. Bagian ini keduanya lazimnya disebut bagian beksan. Selain itu juga menggunakan pola gerak penghubung antara lain kengser,  srisik, lumaksana, sindet, dan enjer.
  1. Pola Lantai
Susunan tari bedhaya suryasumirat menggunakan pola-pola perubahan tempat yang di bentuk oleh kesembilan penari.Perpindahan dari satu ke tempat lain dan membentuk formasi tertentu dinamakan lantai atau gawang.Pola lantai/formasi yang digunakan pada beksan dalam bedhaya suryasumirat menggunakan pola lantai ketonggeng,montor mabur,jejer wayangan,urut kacang,dan tiga-tiga sebagai pola lantai tertutup.
Kemudian bagian kedua yang menciptakan tentang sikap perdamaian antar pangeran sambernyawa dengan sunan pabuwono III menggunakan pola lantai adet adu lawan.Penari batak dan endel weton memang peranan utama,sedang ketujuh penari lainnya dengan posisi duduk jengkeng melakukan gerakan yang sama .Pola lantai tersebut menggambarkan serta melukiskan antara batak dan endel welton berusaha untuk saling menakhlukkan/damai,tetapi tidak ada satu yang kalah /menang.Pola lantai ini merupakn bagian-bagian yang sangat penting,karena dalam garapan tari bedhaya bersifat tematis,penggambaran cerita terletak pada bagian ini.Makna simbolis dapat diambil pada agen ini adalah satu kesatuan antara kedua figure yang saling bertentangan, dalam istilah jawa disebut dengan lara-lara ning atunggal.
Pola gerak yang digunakan dalam tari bedhaya biasanya berupa gerak-gerak yang dilakukan dengan posisi bersila,jengkeng nikelwati,dan berdiriu yang tidakmengubah pola lantai gerak berjalan membuat pola lantai menjadi berubah.
Bentuk pola lantai rakit tiga-tiga.Bentuk pola lantai ini didalam tari bedhaya pada umumnya gaya Surakarta merupakan bagian akhir dari perangan yang dilakukan batak dan ende ajek.Kemudian ketuju penari berdiri, dilanjutkan kesembilan penari tersebut bergerak bersam membentuk rakit tiga-tiga.Garapan bedhaya suryasumirat agak berbeda karena gawang tiga-tiga jatuh pada akhir beksan(iringan bentk ladrang)dan sesudah penerangan.
Gawang montor mabur posisi penari membentuk kapal terbang.Posisi ini di bentuk ole lima penari berderet sejajar membujur tepat ditengah ruangan sementara dua penari berada di depan penari kedua dan ketiga.Gawang jejer wayang adalah kesenbilan penari berderet segaris/tepat ditengah garis membujur.Gawang ketonggeng, posisi lima penari yang berada segaris embujur tepat di tengah ruangan;sedangkan dua penari berada di depan dan belakang segaris melintang dengan penari yang berada di tengah.Dua lainnya berada segaris dengan dua penari yang berada di depan tepatnya di sisi luar penar yang berada diujung kiri.Adapun gawang tiga-tiga,penari berjajar membentuk bariszan dan setiap barisan terdiri dari tiga orang.

  1. Iringan
Karawitan sebagai iringan tarianya menggunakan seperangkat gamelan kyai udan asih,kyai udhan arum laras selendro dan pelok,dan kyai kanyot mesem.ketiga perangkat gamelan tersebut merupakan gamelann mikik mangkunegaran kyai udhan asih dan kyai udan arum memiliki ukuran besar bila di bandingkan dengan ukuran gamelan diasanya dan memiliki kwalitas swara yang terkesan megah dan angun. Dengan keunikan swara yang di miliki oleh kedua perangkat gamelan tersebut,pencipta memilih untuk mengiringi penari berjalan menggunakan gerak kapang-kapang masuk ke arena pentas (biasa di sebut dengan istilah maju begsan) dan keluar dari arena pentas (pandhopo ageng) menuju dalem ageng (biasa disebut istilah mundur begsan). Bentuk gending ladrang ini digarap berselang seling antara laras pelog dan slendro,untuk menambah keagungan swasana berjalannya penari bedhoyo bunyi gamelan berlaras pelog dan slendro itu menjadi sangat angun dan gagah dibarengi oleh instrumen musik barat seperti tambur. Kemudian setelah penari sampai pada arena pentas,karawitan tari berubah dengan menggunakan perangkat gamelan  kyai kanyut mesem sampai dengan tari pokok (begsan pokok) berakir,dengan posisi penari duduk bersila akan mundur begsan.
            Berjalannya para penari menuju ketengah pentas yang disebut kapang-kapang ini sebetulnya khas gaya Yogyakarta yang selalu menyelipkan beberapa instrumen musik barat.kehadiran’rasa gaya Yogya’telah dikenal di istana mangku negara sejak jaman mangkunegara VII.
            Bagian pertama ini diiringi Ada-ada hastakuswala dan tembang pakur laras pelog oleh kelompok vokal putri dengan iringan beberapa instrumen gamelan berupa gendher,rebab,gambang dan suling.selanjutnya di iringi di sambung gending soran labrang arum – asih dengan buka bedug. Bagian iringan  ini bisebut labrang arum asih karena garap ricikannya merupakan dua buah gamelan lengkap yaitu kyai udan asih dan kyai udhan arum yang ditabuh secara bergantian (selang seling). Kyai udhan asih berlaras slendro dan kyai udhan arum berlaras pelog. Tabuhan dari gamelan tersebut disertai ricikan bedog dan instrumen musik barat seperti tambur. Pengunaan kedua buah gamelan dengan gending berbentuk soran dimaksudkan untuk menimbulkan rasa gagah dan semangat sebagai salah satu jiwa prajurid samber nyawa.
            Setelah sampai ke daerah pentas (dibawah lampu robyong pusat pendopo) penari menbentuk gawang rakit, para penari kemudian duduk bersila. Bagian ini diakhiri dengan pathetan sekar sigeg pelog lima. Pemberian sisipan pathetan dimaksudkan untuk mengurangi suasana tegang dan sereng yang ditimbukan oleh iringan sejak ada –ada hastakuswala yang diambil dari gaya yogyakarta dengan laras pelok. Makna yang terkandung dalam cakepan tembang pangkur mengambarkan sepak terjang dan kegigihan pangeran samber nyawa beserta prajurit-prajuritnya dalam melawan musuh. Adapun cakepan pada pathetan Sekarsigeg merupakan tembang sebagai ucapan selamat dari para bidadari yang turun dari kahyangan atas kemenangan Pangeran Sambernyawa. Dengana demikian pathetan Sekarsigeg  diharapkan dapat memberikan kesan lerem.
            Bagian kedua diawali dengan buka celuk (suara sindhen), kemudian pada akhir lagu (buka celuk yang tepat pada suara ricikan gong) para penari melakukan gerak sembahan sebagai gerak awal kemudian dilanjutkan menari dengan posisi berdiri dengan berbagai pola lantai dan perubahan gerak.
            Bagian kedua ini menggunakan gendhing bentuk Gendhing Kemanak Suryasumirat terdiri dari bentuk merong kethuk kalih kerep dan inggah ladrang kethuk kalih kerep berlaras pelog lima yang terdiri 23 gongan. Akhir pada bagian kedua ini, ditandai dengan gerak sembahan dalam posisi duduk bersila atau jengjeng nikelwarti.
            Bagian ketiga, pelaksanaannya sama dengan bagian kedua hanya lebih banyak  menampilkan peran batak dan endhel ajeng yang membawakan gerak-gerak simbolis perdamaian antara  Paku Buwana III dan Pangeran Sambernyawa. Bagian tiga diawali sembahan laras kolong sampur, sembahan lenggut, dan dilanjutkan berdiri dengan menggunakan berbagai macam sekaran yang diakhiri gerak jengkeng, nikelwarti, sembahan dan trapsila.
            Bagian ketiga ini menggunakan gendhing bentuk ketawang Jiwakusuma Pelog lima. Terdiri dari 38 gongan suwuk dan diakhiri dengan Pathetan  Sekar Sinegeg Pelog Pathet Lima. Bagian kedua dan ketiga lazimnya disebut  bagian beksan. Sebelum menginjak ke Gendhing Ketawang, disisipi dahulu oleh Pathetan Sekargading, Laras Pelog Lima sebagai penutup bagian pertama yaitu bagian yang menceritakan tentang kisah pangeran Samberyawa dan sebagai awalan untuk menceritakan K.G.P.A.A Mangkunegara IX. Gendhing Ketawang ini menitik beratkan pada cerita atau menggambarkan tentang harapan dan sikap Sri Mangkunegara IX yang mendhak untuk mohon bantuan kepada siapa saja yang dianggap mampu dan tahu.
            Bagian keempat atau mundur beksan beksan merupakan kebalikan dari bagian pertama, yaitu berjalan perlahan berurutan menggunakan pola gerak kapang-kapang, dari Pendapa Ageng menuju ke ndalem. Iringan yang digunakan juga sama dengan bagian pertama yaitu pathetan dan dilanjutkan garap ricikan  gamelan lengkap dengan bentuk gendhing ladrangan. Penggarapan gendhing dengan laras berselang-seling antara laras pelog dan slendro ini merupakan penggambaran yang dapat digunakan sebagai tonggak sejarah  peringatan akan situasi dan suasana pro kotra yang terjadi di Pura Mangkunegeran pada saat itu. Akan tetapi penggarapan  selang-seling laras tersebut dibuat selaras mungkin agar enak untuk didengar maupun dirasakan dengan harapan pancaroba tersebut tidak akan merusak sajian berdhaya secara keseluruhan.

  1. Rias dan Busana
            Tari Bebhaya Suryasumirat merupakan salah satu tarian istana . Tata rias yang digunakan mengacu pada tari bedhaya istana  tanpa menggunakan sogokan dan godheg. Adapun wajah menggunakan rias kolektif cantik (mempertegas garis  wajah dengan pensil rias bayangan mata dengan pemerah pipi). Kulit badan kelihatan halus dan kuning para penari menggunakan lulur.
            Tata busana yang dikenakan pada bagian kepala para penari dihiasi sebuah jamang berwarna kuning kekemasan yang bermotif Cirebon dan sumping yang diperindah dengan untaian bunga melati menjuntai ke bawah. Setiap penari mengenakan garudha mungkur yang dihiasi utah-utahan yang berupa untaian bunga melati menjuntai kebawah dan rambut ditata rapi ditutup dengan kantong gelung yang diperindah bros terbuat dari perak kuning keemasan. Leher mengenakan kalung dan lengan atas mengenakan kelat bahu serta pergelangan tangan menggunakan gelang. Selain itu masing-masing penari dihiasi sepasang suweng.
            Para penari mengenakan kain denagn motif lereng agak besar yang dikenakan dengan model samparan yang dililitkan tubuh dari arah kanan ke kiri. Baju yang dikenakan model rompi (tanpa lengan) berwarna hijau tua yang dibordir mote engkol berombai. Sampur yang dikenakan berwarna kuning polos memakai gombyok kembang suruh yang melingkari bagian perut, kedua ujungnya berjuntai ke bawah hampir menyentuh kaki. Di atas sampur melingkar sebuah ikat pinggang besar (disebut slepe) berwarna hijau tua bagian tepi diplisir dengan warna kuning. Rangkaian busana yang lain dikenakan slempang berwarna hijau bagian tengah bergaris warna kuning serta tepi diplisir kuning. Agar slempang tersebut tidak mudah lepas disemat bros besar berwarna hijau diplisir kuning keemasan berbentuk bunga matahari sebagai simbol matahari (surya).  Secara keseluruhan perpaduan warna hijau dan kuning (pareanom) merupakan warna identitas yang khas Istana Mangkunegaran.

  1. Property
            Pada dasarnya tidak semua tari bedhaya menggunakan perlengakapan selama menari, dengan demikian sepenuhnya mengandalkan kekuatan gerak itu sendiri. Tari bedhaya yang tidak menyertakan perlengapan tari yaitu tari Bedhaya Ketawang, Bedhaya Semang, Bedhaya Duradasih, Bedhaya Gadhungmlathi, dan juga Bedhaya  Endhol-endhol.
            Tari bedhaya yang menggunakan perlengkapan tari diantaranya Bedhaya Bondhan Kinanthi, Bedhaya Kabor, Bedhaya Sinon dan Bedhaya Gandhungmanis. Perlengakapan tari yang digunakan yaitu berbentuk senjata seperti busur (gendewa) dan anak panahnya atau busur saja, pistol, cundrik atau keris berukuran kecil, dan dhadhap (sejenis perisai dengan gambar wayang yang terbuat dari kulit bermotif tokoh putri atau yang lain). Bedhaya yang menggunakan perlengkapan tari berupa pistol pada umumnya sudah diselipkan dipinggang sejak awal dan terus dibawa menari serta dipergunakan di dalam adegan atau bagian perang. Demikian juga perlengkapan atau property yang digunakan Bedhaya Suryasumirat adalah sebuah pistol atau salvo merupakan ciri khas prajurit Pangeran Sambernyawa.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar